Sugihart Digital Art Gallery
Ian Hugen: Bersuara dengan Aksara Ian Hugen: Bersuara dengan Aksara
Kini, seni kontemporer tengah banyak diminati masyarakat luas. Ragamnya media yang digunakan dalam jenis seni ini menjadi salah satu alasan. Juga, pada karya seni... Ian Hugen: Bersuara dengan Aksara

Kini, seni kontemporer tengah banyak diminati masyarakat luas. Ragamnya media yang digunakan dalam jenis seni ini menjadi salah satu alasan. Juga, pada karya seni kontemporer banyak mengangkat mengenai isu sosial. Salah satu seniman muda yang bernapas lewat seni kontemporer ini adalah Ian Hugen.

Ian merupakan seniman asal Makassar yang kini tengah menempuh studi di Binus Northumbria School of Design, di jurusan Fashion Management. Meskipun terbilang muda, karya Ian telah dipublikasikan di beberapa hajatan seni. Ia pertama menampilkan karyanya di Art Week 2018 yang diselenggarakan oleh Universitas Prasetya Mulya pada Mei lalu. Di sana, dua karyanya turut berpartisipasi dalam meramaikan acara tahunan tersebut. Ian juga kerap memamerkan hasil karyanya pada beberapa laman sosialnya, salah satunya adalah Instagram. Pada linimasa akun Instagram pribadinya, @ianhugen ia memamerkan hasil karya seni yang telah ia buat.

Di Instagram, selain memamerkan karyanya berupa gambar dan lukisan, Ian juga banyak mengunggah beberapa karyanya yang memadukan visual dan tulisan. Lewat tulisan tersebut, Ian mengekspresikan opini maupun perasaannya terhadap isu sosial yang sedang berkembang seperti kematian Haringga, bencana Palu, dan beberapa isu-isu sosial yang sering kita temui sehari-hari sehingga karya-karya Ian lebih terasa dekat dan mengena.

Ian juga mengaku bahwa inspirasi utamanya dalam berkarya adalah masyarakat dan isu-isu yang ada di dalamnya. Berangkat dari tugas kuliah yang menuntutnya untuk menentukan branding atas dirinya sebagai seniman membawanya ke eksplorasi mendalam tentang seni yang ada dalam dirinya.

Tepatnya dimulai dari bulan Maret tahun ini, Ian mulai menggali ketertarikannya dalam dunia seni gambar dan lukis. Ketekunannya membuahkan hasil, setelah mengikuti Art Week 2018 di bulan Mei, Ian lalu berpartisipasi dalam beberapa acara seni. Bahkan pada Sabtu (1/12) ini, Ian akan menyelenggarakan instalasi pertamanya di FUSE 2018 yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan di Kuningan City; Kristmastology ’18.

Ian berkomitmen untuk selalu membuat karya yang jujur dan memiliki arti untuk dirinya sendiri, “Ini (red: berseni) tuh, kaya orang pacaran. Dalam mengerjakannya harus pakai hati, jadi kalau rasanya hilang, aku harus gali, cari dari perspektif lain dan sebagainya. Jadi aku harus selalu jujur sama diri aku sendiri biar aku juga bisa dapet feel-nya.”.

Karya-karya Ian banyak berbicara soal selflove atau untuk mencintai diri sendiri dari pengalaman pribadinya. Ia juga ingin agar orang-orang yang menikmati karyanya ikut merasakan pesan yang ingin ia sampaikan soal cinta terhadap diri sendiri. Jika diperhatikan, karya dari Ian banyak menggunakan warna-warna dominan yang kuat seperti merah dan hitam. Ia berkata bahwa warna merah merepresentasikan dirinya, dengan merah yang memiliki arti berani, cinta, passionate dan juga berbahaya. Namun, hal lain yang diungkapkan lewat karyanya adalah goresan pada karyanya yang tidak lurus dan seringkali terkesan gemetar. Goresan-goresan tersebut, katanya, juga menggambarkan dirinya.

Garis berwarna merah yang seakan berani, namun juga memiliki sisi rapuh di dalamnya. Dan menurutnya, hal itu juga dialami bukan hanya oleh dirinya. Banyak orang yang berjuang tanpa memperlihatkan sisi kerapuhannya sehingga untuk dapat melewati masa-masa sulit, seseorang harus dapat mencintai dirinya terlebih dahulu agar dalam proses melewati masa-masa sulit tersebut, dirinya tidak dikorbankan.

Ian juga sempat membocorkan salah satu agenda besarnya di tahun 2019 mendatang dengan salah satu penerbit besar Indonesia. Kabarnya, pada project tersebut, Ian akan memadukan unsur visual dan tulisan berupa kumpulan-kumpulan puisi. We sure can’t wait for that! Semoga dengan banyaknya seniman muda yang bersemangat dalam berkarya dan peka terhadap isu sosial, kesadaran masyarakat tentang beberapa isu sosial yang dianggap tabu maupun remeh akan meningkat dan dapat diperbaiki. Mari hargai seniman dan karya Indonesia! (mip)

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *