Sugihart Digital Art Gallery
Tentang Rama, Shinta, dan Rahwana Tentang Rama, Shinta, dan Rahwana
Hitam dan putih, baik dan jahat. Stigma-stigma tersebut sudah ditanamkan entah sejak kapan pada masyarakat luas. Sehingga kita terbiasa dengan anggapan bahwa manusia hanya... Tentang Rama, Shinta, dan Rahwana

Hitam dan putih, baik dan jahat. Stigma-stigma tersebut sudah ditanamkan entah sejak kapan pada masyarakat luas. Sehingga kita terbiasa dengan anggapan bahwa manusia hanya memiliki dua sisi dalam dirinya, yang apabila seseorang dominan dalam salah satu sisi, maka dapat dipastikan ia tidak memiliki sisi lainnya.

Hal tersebut juga dapat ditemukan pada epos Ramayana dan Shinta. Rama Wijaya atau Ramayana diceritakan sebagai sosok gagah nan perkasa, dengan istrinya, Dewi Shinta yang cantik serta lemah lembut. Keduanya merupakan protagonis dalam epik yang melegenda bahkan hingga masa kini. Rama mendapatkan Shinta melalui sayembara yang ia menangkan dengan kesaktiannya yang tiada tanding pada masa tersebut.

Shinta pun menikah dengan Rama. Namun tak lama dari pernikahan mereka berdua, Rahwana, sang raja alengka atau raksasa yang buruk rupa dengan 10 wajah (dasamuka) jatuh cinta pada Shinta. Dikatakan bahwa Rahwana merasa Shinta merupakan reinkarnasi dari istrinya yang sudah meninggal, Dewi Widowati. Singkat cerita, Rahwana kemudian melakukan kejahatan terbesarnya pada cerita tersebut, yakni menculik Shinta saat Rama sedang lengah.

Ketika diculik, Shinta tidak diperlakukan dengan jahat. Sebaliknya, ia diistimewakan dan membawa suasana baru dalam kerajaan Rahwana. Karena Rahwana percaya, untuk menaklukkan Shinta seutuhnya, ia tidak boleh menggunakan kekerasan. Ia ingin Shinta jatuh ke dalam pelukannya atas kemauan dan kehendak Shinta sendiri. Namun, kendati sempat tergoda oleh kebaikan hati sang raja raksasa, Shinta yang memang ditakdirkan setia terus menolak rayuan Rahwana untuk menjadi permaisurinya.

Hingga kemudian Rama yang meminta bantuan Hanoman dan bala tentaranya datang menyerbu kerajaan Rahwana. Rahwana dan Rama pun lalu berduel untuk memperebutkan Shinta. Rama yang kemudian memenangkan duel tersebut, masih meragukan kesucian Shinta dan menuduh Rahwana telah menodai Shinta selama menculiknya. Shinta yang sakit hati pun nekat menceburkan diri ke api untuk membuktikan kesuciannya. Dewa api yang melihat ketulusan Shinta pun menyelamatkannya dari kobaran api. Lalu Rama pun menerima Shinta kembali sebagai istrinya.

Dari kisah tersebut, setiap tokoh tidak digambarkan dengan satu sisi saja. Baik Rama, Shinta, maupun Rahwana. Namun dari kisah pewayangan, terdapat penggambaran tertentu yang lalu menggiring opini audiens. Rama digambarkan sebagai sosok yang tampan serta pemberani, wajahnya biasa dilukis dengan warna putih, warna khas yang melambangkan kesucian. Postur tubuhnya tegap, menggambarkan bahwa ia adalah sosok yang gagah. Shinta, memiliki postur dengan kepala menghadap ke bumi, menandakan ia merupakan pribadi yang rendah hati. Juga diceritakan bahwa ia adalah sosok yang rupawan. Lalu Rahwana, sang raja raksasa dengan 10 wajah, badannya bukan main besarnya, wajahnya di wayang dilukis dengan warna merah, warna yang melambangkan keberanian atau tokoh jahat. Ditambah dengan mata yang membelalak serta taring yang menyembul dari mulutnya, menambah keyakinan pada persepsi bahwa Rahwana merupakan seorang antagonis dari epos ini.

Namun apakah benar, Rahwana merupakan satu-satunya tokoh antagonis? Karena ia menculik Shinta? Atau karena ia sampai hati berniat membunuh Rama demi mendapatkan Shinta? Lalu bagaimana dengan Rama, yang mendapatkan Shinta semata-mata karena ia memenangkan sayembara? Yang bahkan sempat meragu pada kesucian Shinta dan enggan untuk menerimanya kembali apabila Shinta memang telah dinodai Rahwana. Dan Shinta? Meskipun diculik, ia sendiri mengaku sempat jatuh cinta kepada Rahwana atas kebaikan dan ketulusan hati Rahwana. Ia pun sempat gelisah, berpikir bahwa suaminya mungkin tak lagi mencintainya.

Pada buku seorang seniman ternama, Sudjiwo Tedjo yang bertajuk “Rahvayana: Aku Lala Padamu” terdapat kutipan menarik tentang Rahwana yang mungkin dapat menjadi bahan renungan untuk berpikir ulang tentang bagaimana kita memandang penokohan pada epik Ramayana dan Shinta ini; “Tuhan, jika cintaku kepada Shinta terlarang, kenapa Kau bangun begitu megah rasa itu di hatiku?” (mip)

 

Sumber: Agung13Permana

Intisari

 

Sumber gambar: Jagad.id

Photoale

 

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *