Sugihart Digital Art Gallery
Agus “Wayang Jewer” Nuryanto: Merefleksikan Hidup Lewat Wayang Agus “Wayang Jewer” Nuryanto: Merefleksikan Hidup Lewat Wayang
Wayang merupakan salah satu warisan asli Indonesia yang diakui dunia harus dijaga bersama kelestariannya. Banyak cara untuk melestarikan budaya asli Indonesia, baik dengan mengapresiasi... Agus “Wayang Jewer” Nuryanto: Merefleksikan Hidup Lewat Wayang

Wayang merupakan salah satu warisan asli Indonesia yang diakui dunia harus dijaga bersama kelestariannya. Banyak cara untuk melestarikan budaya asli Indonesia, baik dengan mengapresiasi karya yang ada maupun dengan berseni dengan budaya itu sendiri.

Agus Nuryanto adalah perupa asal Yogyakarta yang memilih wayang sebagai fokusnya dalam berseni. Semenjak tahun 2000, Agus sudah memulai kegiatan berseninya di se
buah kelompok seni yang ia buat bernama Kelompok Seni Pinggiran atau Kelompok Sepi. Semenjak itu juga Agus banyak berkarya dengan mengambil figur wayang sebagai objek seninya hingga saat ini.

Beralih ke tahun 2013, rekan Agus memanggilnya Wayang Jewer karena kerap melukis dan berseni dengan objek wayang dan sebagai pembeda di antara seniman yang menggunakan wayang sebagai objek seninya.

Lalu Agus pun menggunakan nama Wayang Jewer sebagai tema di pameran tunggalnya di tahun 2014, yang lalu melekat sebagai julukannya yaitu Agus Wayang Jewer. Selain menjadi julukan, Agus juga kerap menggunakan nama tersebut sebagai jargon ekslusif miliknya yaitu “Salam Wayang Jewer!”.

Agus sendiri tengah berpartisipasi dalam sebuah pameran seni bersama yang bertajuk “Berkaca Pada Kaca”, digelar di Yogyakarta mulai dari Sabtu (04/08) lalu hingga Jumat (10/08) mendatang. Pameran yang bertempat di Tahun Mas Art Room dan dibuka oleh seniman sekaligus aktor Butet Kertaradjasa ini diikuti oleh 5 seniman yang salah satunya adalah Agus Nuryanto. Seperti tajuk yang diambil, medium dari karya yang dipamerkan adalah kaca dan tiap seniman memiliki ‘cerita’-nya sendiri yang dituangkan ke dalam karyanya.

Agus menyatakan bahwa tajuk “Berkaca Pada Kaca” sendiri ditujukan sebagai bentuk dari refleksi diri agar dalam berkarya, harus senantiasa mawas diri akan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.

Selain lima seniman senior, terdapat beberapa seniman generasi muda yang ikut serta dalam pameran ini. Diharapkan pameran ini dapat berperan sebagai sarana belajar dan motivasi untuk berkarya sehingga nantinya akan banyak penerus perupa kaca di Yogyakarta di masa mendatang.

Ketika ditanya mengapa memilih wayang sebagai fokusnya dalam berseni, Agus mengatakan bahwa ia memang menggemari pewayangan serta ingin mewayangkan kehidupan ini. Agus juga berpesan untuk seniman-seniman yang baru menjajaki dunia seni:

“Ketika ingin menjadi seniman, rasa senang dulu dengan profesi ini(seniman). Lakukan dengan senang gembira, biarlah waktu yang menemani setiap nafas seninya.”

Agus sendiri hingga kini masih aktif berkarya, setelah pameran Berkaca Pada Kaca rampung, aka nada dua pameran sekaligus yang menantinya pada September dan November mendatang. Dengan adanya perupa seperti Agus “Wayang Jewer” ini, kita patut berterimakasih karena lewat karya yang ia tunjukkan, ada nafas budaya sehingga tidak putus termakan zaman. (mip)

 

Sumber gambar: Agus Nuryanto

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Your email address will not be published. Required fields are marked *